Cara Fermentasi Jerami Sistem Terbuka untuk Peternak
![]()
Bagi peternak sapi, kambing, maupun kerbau, skala kecil hingga menengah ketersediaan pakan sering menjadi tantangah utama. Pada musim hujan, hijau hiauan melimpah dan ternak bisa makan dengan mudah. Cara fermentasi jerami sistem terbuka merupakan solusi yang tepat saat musim kemarau, ketika hijauan segar sulit diperoleh dan peternak memerlukan pakan alternatif yang murah serta mudah didapat.
Salah satu solusi yang dapat dimanfaatkan adalah jerami padi. Namun, jerami memiliki keterbatasan karena kandungan nutrisinya rendah. Sebagai upaya mengatasi masalah tersebut, para peternak kini menggunakan cara fermentasi jerami sistem terbuka yang dinilai sederhana, ekonomis, dan efektif untuk meningkatkan nilai gizi jerami.
Metode fermentasi ini dapat mengubah jerami yang keras dan kurang bergizi menjadi pakan yang lebih lembut, harum, dan disukai ternak. Metode ini juga sangat cocok diterapkan di pedesaan karena tidak memerlukan peralatan yang rumit Dengan langkah yang tepat, jerami hasil fermentasi bisa menjadi solusi praktis bagi peternak kecil maupun menengah.
Cara Fermentasi Jerami Sistem Terbuka
Ikutilah setiap tahapan yang dijelaskan dalam artikel ini agar dapat menghasilkan pakan ternak berkualitas sesuai kebutuhan usaha dan harapan. Artikel ini membahas cara fermentasi jerami sistem terbuka untuk pakan ternak.
Fermentasi pakan sapi dengan sistem terbuka sebaiknya dilakukan di tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Berikut adalah tahapan praktis yang bisa dilakukan oleh peternak.
1. Persiapkan Jerami

Gunakan jerami segar hasil panen yang masih bersih dari kotoran atau jamur. Potong-potong jerami menjadi ukuran sekitar 10-15 cm.
Selanjutnya untuk cara pengecekannya sangat sederhana, genggam jerami dengan tangan, jika terasa sudah lembab tetapi tidak menetes, berarti jerami sudah sesuai.
2. Persiapan Larutan Fermentasi

Larutan fermentasi umumnya dibuat dengan campuran probiotik (misalnya EM4 Peternakan), urea, dan air. Takaran yang sering digunakan Adalah:
- 1 liter probiotik,
- 5 kg urea,
- 100 liter air, (untuk setiap 100 kg Jerami segar)
Semua bahan diaduk hingga rata sebelum siap digunakan
3. Proses pencampuran Fermentasi Jerami

Siapkan alas berupa terpal atau lantai semen. Tebarkan jerani setebal 20-30 cm, kemudian siram larutan fermentasi sambil diaduk agar merata. Setelah itu, jangan lupa tambahkan lapisan jerami baru di atasnya, siram lagi, lalu aduk. Lakukan berulang kali hingga tumpukan jerami mencapai ketinggian 2-3 meter.
4. Penutupan dan Pemantauan

Tutup bagian atas tumpukan jerami dengan terpal untuk melindungi dari hujan, tetapi biarkan sisi-sisinya terbuka agar udara tetap masuk. Selama 5-7 hari fermentasi, lakukan pengecekan setiap 2-3 hari sekali. Jika terlihat bagian yang busuk atau berjamur, segera singkirkan
5. Pemanenan

Jerami fermentasi siap digunakan setelah 5-7 hari. Ciri jerami yang baik adalah warna kuning kecoklatan, tekstur lebih lembut, serta aroma harum yang mirip tape. Pakan ini bisa langsung diberikan pada sapi, kambing, atau kerbau.
Mengapa Fermentasi Jerami Itu Penting?
Jerami merupakan hasil samping pertanian yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia. Jika tidak dimanfaatkan, jerami biasanya dibakar begitu saja di sawah setelah panen.
Secara alami, jerami padi mengandung protein kasar rendah, hanya sekitar 3–4%. Selain itu, jerami juga kaya lignin dan silika yang membuatnya sulit dicerna. Jika diberikan secara langsung, sebagian besar jerami hanya akan keluar lagi sebagai kotoran tanpa sempat dimanfaatkan tubuh ternak.
Fermentasi membantu mengatasi masalah ini. Dengan bantuan mikroorganisme, dinding sel jerami akan diuraikan sehingga kandungan seratnya berkurang. Hasil fermentasi bisa meningkatkan kandungan protein hingga 7–9% serta memperbaiki kecernaan.
Selain itu, jerami fermentasi memiliki aroma harum seperti tape dan tekstur yang lebih lembut. Hal ini membuat sapi, kambing, maupun kerbau lebih lahap dalam mengonsumsinya.
Perbandingan Fermentasi Sistem Tertutup dan Sistem Terbuka
Secara umum, fermentasi jerami bisa dilakukan dengan dua metode yaitu, sistem tertutup dan sistem terbuka.
1. Cara Fermentasi Jerami Sistem Tertutup (Anaerob):
Pada system ini, jerami difermentasikan dalam kondisi tanpa oksigen, misalya meggunakan daun drum, silo, atau plastic kedap udara. Kelebihannya adalah Jerami bisa bertahan lebih lama, hingga bahkan beberapa bulan kedepan. Namun, salah satu kelemahannya adalah membutuhkan biaya tambahan untuk wadah dan penanganan yang lebih hati hati
2. Cara Fermentasi Jerami Sistem Terbuka (Aerob):
Berbeda dengan sistem tertutup, sistem terbuka dilakukan dengan menumpuk jerami di atas alas seperti terpal atau lantai semen. Tumpukan kemudian disiram larutan fermentasi dan ditutup sebagian,agar sementara udara tetap bisa masuk.
Masa simpan memang lebih singkat,sekitar 2-3 minggu, tetapi cara ini jauh lebih praktis bagi peternak kecil. Karena tidak membutuhkan plastik khusus atau drum bear, metode terbuka menjadi pilihan populer di banyak desa.
Kelebihan dan Kekurangan dari Fermentasi Jerami Sistem Terbuka

1. Kelebihan Cara Fermentasi Jerami Sistem Terbuka :
- Biaya murah, karena tidak memerlukan plastik kedap udara atau silo.
- Proses yang sederhana dan bisa dilakukan langsung di pekarangan rumah.
- Waktu fermentasi relatif cukup singkat, 5-7 hari saja.
- Cocok untuk peternak skala kecil yang membutuhkan pakan dengan cepat.
2. Kekurangan Cara Fermentasi Jerami Sistem Terbuka :
- Masa simpan jerami relatif sangat singkat , umumnya hanya memerlukan waktu 2-3 minggu saja.
- Jika jerami terkena hujan,kualitas bisa menurun drastic.
- Risiko konstimasi jamur lebih tinggi bila pengawasan kurang baik.
Variasi Bahan Tambahan
Selain probiotik dan urea, ada beberapa bahan tambahan yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas Jerami:
- Molasses, Sumber energi cepat dan membantu pertumbuhan mikroba fermentasiDedak padi
- Dedak padi, Menambahkan karbohidrat dan meningkatkan kandungan protein.
- Mineral mix atau garam, Melengkapi kebutuhan nutrisi penting lemak.
Penambahan ini bisa disesuaikan dengan kondisi ekonomi perternak serta jenis ternak yang dipelihara.
Tips agar Fermentasi Berhasil
- Gunakan probiotik yang masih aktif dan belum kadaluarsa.
- Pastikan jerami tidak terlalu basah agar tidak busuk.
- Hindari paparan sinar matahri langsung pada tumpukan jerami.
- Lakukan pengadukan yang merata saat penyiraman larutan fermentasi.
- Segera gunakan jerami fermentasi dalam 2-3 minggu agar kualitas tetap terjaga.
Manfaat Ekonomi bagi Peternak
Dengan menerapkan fermentasi jerami, peternak dapat menekan biaya hingga 30-40%. Sebagai contoh, jika sebelumnya seorang perternak mengeluarkan Rp500.000 per bulan untuk membeli pakan tambahan, maka setelah menggunakan jerami fermentasi biaya bisa turun menjadi sekitar Rp300.000.
Selain itu, kualitas ternak juga meningkat. Sapi potong lebih cepat mencapai bobot ideal, kambing lebih sehat, dan produksi susu sapi perah bertambah. Semua ini tentu berdampak positif pada pendapatan peternak
Manfaat Tambahan dari Fermentasi Jerami Sistem Terbuka
Selain meningkatkan nilai gizi dan kecernaan, jerami fermentasi juga membantu memperbaiki Kesehatan ternak secara keseluruhan. Ternak yang mengonsumsi pakan fermentasi biasanya memiliki sistem pencernaan lebih baik karena mikroba pada proses fermentasi ini ikut membantu menyeimbangkan microflora di dalam rumen.
Dampak Lingkungan
Praktik fermentasi jerami ini juga membantu mengurangi kebiasaan membakar Jerami di sawah. Padahal, pembakaran jerami juga dapat menimbulkan polusi udara, menghasilkan gas rumah kaca, serta merusak kesuburan tanah. Dengan memanfaatkan jerami sebagai pakan fermentasi, peternak turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengurangi limbah pertanian.
Studi kasus di Lapangan
Kasus 1 > Peternak Sapi di Yogyakarta
Seorang peternak sapi di sleman mengaku biaya pakannya turun drastis setelah menerapkan sistem fermentasi terbuka. Sapinya lebih cepat gemuk, sehingga harga jualnya pun meningkat.
Kasus 2 > Peternak Kambing di Jawa Barat
Di daerah garut, seorang ibu rumah tangga yang beternak kambing memanfaatkan jerami sisa panen padi. jerami tersebut dibuat fermentasi. Kini kambingnya lebih sehat dan tidak lagi kekurangan pakan saat musim kemarau.
Kasus 3 > Peternak Kerbau di Lombok
Para peternak kerbau di NTB berhasil mengurangi ketergantungan pada pakan hijauan dengan membuat jerami fermetasi terbuka. Metode ini mudah dilakukan tanpa harus membeli silo yang mahal.
Strategi Penyimpanan Hasil Fermentasi
Meski sistem terbuka hanya mampu menyimpan jerami sekitar 2-3 minggu, ada beberapa cara untuk memperpanjang masa simpanannya, yaitu :
- Simpan di tempat teduh dan kering.
- Hindarkan dari kontak langsung dengan tanah, gunakan alas terpal atau papan.
- Bila memungkinkan, bungkus Sebagian jerami dengan plastis setelah fermentasi tersebut selesai.
Dengan manajemen yang baik, masa simpan bisa bertahan hingga 4 minggu.
Kesalahan yang sering terjadi
Beberapa kesalahan umum membuat jerami gagal difermentasi sebagai berikut ;
- Jerami dibuat terlalu basah sehingga cepat menjadi busuk.
- Menggunakan jerami lama atau berjamur sejak awal
- Tumpukan jerami ditutup sangat rapat tanpa celah udara.
- Tidak melakukan pemantauan secara rutin.
Kesalahan ini dapat mengakibatkan jerami gagal difermentasi dan tidak layak diberikan kepada ternak.
Tantangan dalam Penerapan Fermentasi Jerami
Walaupun metode fermentasi jerami sistem terbuka sangat bermanfaat, tidak dapat dipungkiri ada beberapa tantangan yang kerap dihadapi peternak. Salah satunya adalah kurangnya pengetahuan teknis.
Banyak peternak yang belum terbiasa menentukan takaran larutan fermentasi dengan benar, sehingga hasil tidak sesuai harapan. Apabila cairan terlalu sedikit, jerami tidak terolah dengan sempurna, sedangkan jika cairan terlalu banyak, jerami justru lembek dan cepat membusuk.
Cuaca juga menjadi factor penting. Pada musim hujan, tumpukan jerami bisa cepat rusak apabila tidak terlindungi dengan baik. Sementara saat kemarau, panas berlebih dapat menghambat fermentasi apabila kelembapan jerami tidak terjaga.
Peluang Fermentasi untuk Pengembangan ke depan
Walaupun memiliki tantangan, potensi penerapan jerami di Indonesia sangat besar. Setiap musim panen padi, jerami tersedia dalam jumlah yang melimpah dan sering tidak termanfaatkan dengan baik. Melalui inovasi sederhana, jerami bisa diolah menjadi pakan ternak bergizi dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding pakan pabrikan.
Apabila pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani bekerja bersama, metode ini bisa dikembangkan menjadi program unggulan desa. Produksi jerami fermentasi ini bahkan bisa ditingkatkan untuk dipasarkan di daerah lain yang membutuhkan. Dengan cara ini, sistem fermentasi terbuka bukan hanya mencukupi kebutuhan peternak kecil, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang bernilai ekonomi tinggi.
Pemberdayaan Peternak Lewat Fermentasi Jerami Sistem Terbuka
Fermentasi jerami sistem terbuka juga dapat menjadi upaya pemberdayaan masyarakat desa. Melalui kegiatan pelatihan sederhana, para peternak atau kelompok tani bisa saling bertukar pengetahuan tentang cara mencacah jerami, mencampur bahan, hingga menyimpannya dengan baik.
Langkah ini tidak hanya mempererat kerja sama antarpeternak, tetapi juga membantu mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan yang mahal. Lebih jauh lagi, jerami hasil fermentasi bisa diolah bersama-sama dan dipasarkan kepada peternak lain yang membutuhkan, sehingga menciptakan peluang usaha baru.
Kesimpulan
Demikian fermentasi jerami dengan sistem terbuka merupakan cara yang sederhana, murah praktis untuk mengubah limbah pertanian untuk mengubah limbah pertanian menjadi pakan bernilai tinggi. Dengan metode ini, peternak tidak hanya bisa menekan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan produktivitas ternak.
Selain bermafaat bagi peternak, teknik fermentasi terbuka ini juga membantu menjaga lingkungan karena jerami tidak lagi dibakar. Melalui penerapan cara fermentasi jerami sistem terbuka, peternak Indonesia dapat lebih mandiri, efisien, dan sejahtera dalam usaha ternaknya.
