Panduan Praktis Cara Membuat Fermentasi Pakan Domba
Salah satu solusi cerdas dan murah adalah dengan Cara Membuat fermentasi pakan domba dengan praktis. Cara ini bukan hanya ramah di kantong, tapi juga meningkatkan nilai gizi pakan serta memperpanjang masa simpan.
Fermentasi adalah proses alami pemecahan bahan organik oleh mikroorganisme, seperti bakteri asam laktat.
Langkah – Langkah Cara Pembuatan Fermentasi Pakan Domba secara Praktis
Fermentasi pakan domba merupakan salah satu teknik pengolahan pakan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan daya cerna bahan pakan. Cara ini sangat berguna bagi peternak yang ingin memanfaatkan limbah pertanian atau pakan hijauan secara lebih efisien. Melalui proses fermentasi, pakan menjadi lebih tahan lama, aromanya lebih disukai ternak, serta mampu meningkatkan nafsu makan dan produktivitas domba. Dalam panduan ini, akan dijelaskan langkah-langkah mudah dan praktis dalam membuat pakan fermentasi, sehingga bisa diterapkan langsung oleh peternak di berbagai skala usaha tanpa membutuhkan peralatan yang rumit.

1. Pencacahan Bahan
Tujuannya bukan sekadar memotong rumput, tetapi untuk menciptakan ukuran potongan yang ideal, yakni sekitar 3 sampai 5 cm. Ukuran ini memungkinkan proses fermentasi berjalan lebih cepat karena permukaan bahan yang lebih luas memudahkan mikroorganisme bekerja.
Bayangkan ketika kita memasak sayur, potongan yang seragam akan membuat matangnya lebih merata. Hijauan yang tercacah halus mempercepat aktivitas bakteri baik yang bekerja mengurai dan memperkaya kandungan nutrisi dalam pakan.
Mencacah bahan bisa dilakukan dengan pisau atau parang, tetapi akan sangat memakan waktu jika jumlah bahan banyak. Untuk menghemat tenaga dan waktu, banyak peternak kini memakai alat bantu seperti chopper rumput mini dari Embe Chopper. Alat ini tidak hanya mempercepat proses pencacahan, tapi juga membuat ukuran potongan lebih seragam. Dengan begitu, fermentasi berjalan lebih optimal, dan petani bisa fokus ke pekerjaan lain di kandang.
2. Pembuatan Larutan Fermentasi
Langkah berikutnya adalah menyiapkan cairan yang berfungsi sebagai pemicu fermentasi. Ambil satu liter air bersih ke dalam ember kecil atau wadah serupa, lalu tambahkan sekitar lima sendok makan molase. Jika tidak ada molase, Anda bisa menggunakan gula merah yang sudah dilarutkan lebih dahulu dalam air hangat. Aduk semua bahan hingga benar-benar tercampur rata dan tidak ada endapan yang tertinggal di dasar wadah.
Larutan ini berfungsi sebagai sumber mikroorganisme yang akan mengubah bahan hijauan menjadi pakan yang lebih mudah dicerna dan lebih bernutrisi. Pastikan air yang digunakan bersih dan tidak mengandung kaporit, karena bisa menghambat pertumbuhan mikroba yang dibutuhkan dalam proses fermentasi.
3. Pencampuran Bahan
Setelah larutan fermentasi siap dan bahan hijauan telah dicacah, kini saatnya mencampur semuanya menjadi satu. Gunakan ember besar atau tong plastik yang bersih. Masukkan hijauan yang telah dicincang bersama dedak atau bekatul dengan perbandingan sekitar 3 banding 1. Artinya, jika Anda menggunakan 15 kg hijauan, maka tambahkan sekitar 5 kg dedak.
Tuangkan larutan fermentasi secara merata ke seluruh permukaan campuran bahan pakan. Gunakan tangan (dengan sarung tangan) atau alat aduk bersih untuk mengaduk semua bahan hingga tercampur merata dan agak lembap, namun tidak basah kuyup. Pastikan tidak ada bagian yang kering agar proses fermentasi bisa berjalan maksimal dan merata ke seluruh bahan.
Aduk dengan perlahan namun menyeluruh, dan pastikan aroma dari larutan mulai meresap ke dalam hijauan.
4. Fermentasi
Proses inti dari pembuatan pakan ini ada pada tahap fermentasi. Setelah bahan dicampur dan dimasukkan ke dalam wadah, tutup rapat ember atau tong agar udara luar tidak masuk. Penting untuk menggunakan wadah yang benar-benar tertutup, karena keberadaan oksigen bisa merusak proses fermentasi dan menyebabkan bahan membusuk.
Biarkan bahan dalam kondisi tertutup selama kurang lebih 3 hingga 7 hari. Selama waktu ini, mikroorganisme aktif bekerja mengurai bahan dan menghasilkan senyawa yang meningkatkan nilai gizi pakan.
Tanda bahwa proses fermentasi berhasil antara lain adalah munculnya aroma khas seperti tape atau tempe, tekstur bahan yang menjadi lebih lunak, dan tidak adanya jamur berwarna hitam atau hijau. Warna bahan biasanya tetap alami, dan tidak menunjukkan tanda-tanda pembusukan.
Jika tercium bau busuk atau terlihat jamur berbahaya, artinya proses fermentasi gagal dan bahan tidak layak diberikan ke ternak.
5. Penyimpanan
Setelah proses fermentasi selesai dan bahan pakan menunjukkan tanda-tanda keberhasilan seperti bau yang harum serta tekstur yang lembut, langkah selanjutnya adalah menyimpannya dengan benar.
Jika disimpan dengan baik, pakan hasil fermentasi ini dapat bertahan selama 7 hingga 10 hari. Namun, daya tahan ini bisa lebih singkat atau panjang tergantung pada suhu lingkungan dan seberapa rapat wadah penyimpanannya. Pastikan untuk mengecek kondisi pakan secara berkala. Jika tercium bau menyengat atau muncul tanda-tanda jamur, segera hentikan penggunaannya agar tidak membahayakan ternak.
Alat dan Bahan yang Dibutuhkan
Sebelum memulai proses fermentasi, penting untuk menyiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan. Dengan persiapan yang matang, pekerjaan jadi lebih efisien dan hasil fermentasi pun bisa maksimal. Alat yang digunakan umumnya sederhana dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar, sehingga tidak perlu biaya besar. Begitu pula bahan-bahan utamanya, sebagian besar bisa berasal dari limbah pertanian atau hijauan yang tersedia di sekitar kandang. Berikut ini daftar alat dan bahan yang sebaiknya disiapkan sebelum memulai proses fermentasi pakan domba:
Bahan Pakan:
- Hijauan segar: Bisa berupa rumput gajah, daun singkong, daun lamtoro, atau jenis hijauan lokal lainnya. Usahakan bahan dalam kondisi segar agar hasil fermentasi lebih optimal.
- Dedak halus atau bekatul: Berfungsi sebagai sumber energi tambahan dan memperkaya tekstur serta rasa pakan.
- Air bersih: Digunakan untuk membuat larutan fermentasi dan membasahi campuran bahan.
- EM4 dapat dibeli di toko pertanian atau di internet. Produk mikroorganisme ini sangat bermanfaat untuk membantu proses fermentasi.
- Molase (tetes tebu): Bahan pemanis alami untuk mempercepat pertumbuhan mikroba. Jika sulit didapat, bisa diganti dengan gula merah yang sudah dilarutkan dalam air hangat.
Alat yang Dibutuhkan:
- Pisau tajam atau parang: Untuk mencacah hijauan jika belum memiliki mesin.
- Ember besar atau tong plastik: Wadah untuk mencampur dan memfermentasi bahan. Pastikan bersih dan memiliki penutup rapat.
- Sendok aduk atau kayu pengaduk: Untuk mencampur bahan dan larutan secara merata.
- Sarung tangan: Untuk menjaga kebersihan saat mencampur bahan.
- Mesin chopper rumput mini: Alat bantu yang sangat dianjurkan untuk mempercepat dan meratakan proses pencacahan hijauan, terutama bagi peternak yang memelihara domba dalam jumlah banyak.
Keuntungan Fermentasi Pakan untuk Domba

Fermentasi pakan memberikan banyak manfaat bagi peternak, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi produktivitas ternak. Berikut beberapa keuntungan yang bisa Anda rasakan:
- Hemat Biaya Produksi: Anda bisa menggunakan bahan-bahan lokal seperti dedak, jerami, atau limbah sayuran yang sebelumnya terbuang. Setelah difermentasi, bahan-bahan ini justru menjadi pakan bernutrisi tinggi.
- Pencernaan Lebih Baik: Proses fermentasi membantu memecah serat kasar, sehingga domba lebih mudah mencerna pakan. Hasilnya, pertumbuhan bobot badan lebih cepat dan efisien.
- Tidak Mudah Basi: Salah satu keunggulan utama fermentasi adalah kemampuannya memperpanjang umur simpan pakan. Selama penyimpanan dilakukan dengan benar, pakan bisa tahan lebih dari seminggu tanpa perlu bahan pengawet.
- Solusi di Musim Kemarau: Ketika hijauan segar langka, pakan fermentasi bisa menjadi cadangan yang sangat membantu, karena Anda bisa menyimpannya terlebih dahulu dalam jumlah besar.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
- Menggunakan Terlalu Banyak Air
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah bahan pakan dibuat terlalu basah. Air yang berlebihan bisa menyebabkan pakan tidak terfermentasi dengan baik, malah justru membusuk. Hasilnya, pakan mengeluarkan bau tidak sedap dan domba jadi enggan memakannya. -
Membiarkan Fermentasi Terlalu Lama
Fermentasi idealnya berlangsung antara 3 hingga 7 hari, tergantung jenis bahan dan kondisi penyimpanan. Jika dibiarkan lebih dari waktu tersebut tanpa pengawasan, pakan bisa kehilangan kualitas nutrisinya dan justru jadi sarang jamur atau bakteri yang merugikan. -
Tidak Mencacah Bahan dengan Baik
Bahan yang digunakan sebaiknya dicacah kecil-kecil agar proses fermentasi berjalan merata. Jika potongan terlalu besar, bagian dalamnya tidak akan terfermentasi sempurna. Akibatnya, pakan menjadi tidak seragam, dan domba bisa memilih-milih makanannya.
Tips Tambahan
-
Jangan Sering Membuka Tutup Tong
Selama masa fermentasi, usahakan untuk tidak terlalu sering membuka wadah atau tong penyimpanan. Membuka tutup terlalu sering bisa membuat udara luar masuk, yang akan mengganggu proses fermentasi dan memicu tumbuhnya jamur atau bakteri yang tidak diinginkan. -
Gunakan Bahan yang Masih Segar
Pastikan semua bahan yang digunakan, terutama hijauan, dalam kondisi segar dan tidak busuk. Bahan yang sudah layu atau mulai membusuk bisa mempercepat proses pembusukan, bukan fermentasi, dan hasil akhirnya jadi tidak layak diberikan ke ternak. -
Waspadai Munculnya Jamur atau Bau Menyengat
Jika selama atau setelah proses fermentasi muncul jamur berwarna hitam, atau pakan mengeluarkan bau busuk menyengat seperti bau bangkai, sebaiknya jangan diberikan ke domba. Itu tanda fermentasi gagal, dan bisa membahayakan kesehatan hewan. -
Pastikan Wadah Tertutup Rapat
Wadah atau tong fermentasi harus benar-benar tertutup rapat. Kehadiran udara (oksigen) bisa menggagalkan proses fermentasi anaerob dan menyebabkan bahan malah membusuk. Gunakan plastik atau penutup kedap udara untuk menjaga kondisi dalam wadah tetap stabil.
Bagi petani yang ingin skala produksi lebih besar, menggunakan alat seperti Mesin Chopper Rumput Mini dari Embe Chopper sangat disarankan. Alat ini hemat listrik, mudah dipindah, dan cocok untuk penggunaan harian di pedesaan.
Untuk referensi lebih lanjut, Anda juga bisa membaca panduan dari Balitnak – Badan Litbang Pertanian tentang teknologi pakan fermentasi.
Penutup
Dengan memahami dan menerapkan cara fermentasi pakan domba secara alami, peternak bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pakan sehari-hari. Tidak hanya mengurangi biaya operasional, metode ini juga membantu meningkatkan kesehatan dan pertumbuhan ternak secara keseluruhan. Yang tak kalah penting, proses fermentasi ini ramah lingkungan, mudah dilakukan, dan cocok diterapkan di tingkat peternakan rakyat, mulai dari skala kecil sampai menengah.
Semoga panduan ini bisa menjadi bekal awal yang bermanfaat. Jangan ragu untuk mulai mencoba di kandang sendiri, karena perubahan besar sering dimulai dari langkah-langkah sederhana. Selamat mencoba, dan salam sukses untuk peternak-peternak tangguh di desa!
